Langsung ke konten utama

Postingan

Purwokerto dan Secuil Cerita Lama

Jumat (27/05) lalu saya mengawali solo trip saya ke Purwokerto. Rencananya, saya hendak mengikuti sebuah event workshop jurnalis yang diadakan oleh Sejuk (Serikat Jurnalis untuk Keberagaman). Saya merasa beruntung, karena menjadi salah satu bagian dari peserta yang jumlahnya hanya 20 orang. Dibanding mereka yang sudah senior dan menjadi wartawan profesional, saya tentu tidak ada apa-apanya. Banyak yang saya dapatkan dari mengikuti workshop sejuk tersebut. Mulai dari pemberangkatan sampai pulangnya, hampir tidak ada yang saya keluhkan. Barangkali, penyesalan saya hanya terletak pada kebodohan saya karena membeli makanan di kereta yang harganya tidak wajar bagi mahasiswa pas-pasan seperti saya ini.  Dari berangkat, saya sendiri baru kali pertama ini naik kereta. Saya pun sudah mendapat pengalaman bagaimana caranya memesan tiket sampai memilih tempat duduk. Ternyata, naik kereta memang cukup nyaman buat perjalanan jauh.  Dari situ pula, saya juga merasakan bagaimana naik angkot b...

Merawat Tradisi “Kemesraan” Berproses

foto: Fschfess.id Setiap orang ada masa dan ceritanya masing-masing. Cita-cita, keberhasilan dan kegagalan yang terjadi hanya bagian dari proses kemandirian. Merasa terpuruk dan menyalahkan diri tidak akan mengubah keadaan. Semua harus dihadapi dengan penuh percaya diri. Saya merasa ada sesuatu yang hilang dari Paradigma. Sebuah tradisi mesra yang sedikit tergantikan. Tentang sebuah rutinan kecil yang biasa dilakukan oleh para pelaku sejarah paradigma di masa lampau. Saya boleh menyebutkan sebagai tradisi kemesraan berproses. Perihal bagaimana mereka tekun dan konsisten untuk mengasah diri, mengembangkan pola pikir serta membangun kesolidan antar punggawa.  Bicara sedikit tentang “Kataman Kata” bila dipecah satu persatu kata akan menjadi “kata man kata.” Teman-teman boleh memaknai ini dengan apa saja. Namun, yang saya tangkap dari cerita beberapa alumni, kegiatan rutinan ramadan di paradigma ini tentunya mempunyai sejarah dan maknanya sendiri.  Dari kata ke kata sepertinya bis...

"Empan Papan" Sejak Dalam Pikiran

ilustrasi: zsaitsits  "Ternyata, hidup hanya perihal rasan-rasan. Selebihnya, hanya soal nahan dan menyatakan perasaan." Adalah kata yang aku kutip dari kawan lama semasa SMA dulu, yang kini sudah menjadi seorang seniman, sebut saja hisam al-gibran.  Bila dipikir-pikir, ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh mbah hisam, sapaan akrabnya. Sadar atau tidak, kita sendiri sudah terlampau sering menerapkan metode tradisional ini untuk sekadar mengisi atau meramaikan obrolan.  Rasan-rasan kepada siapa saja yang ada dalam pikiran, tanpa butuh waktu lama, mulut kita tak terkendali melontarkan guneman renyah yang meramaikan forum. Perihal apa saja, rasan-rasan kepada tetangga, kawan, dosen, organisasi, masa depan, keluarga, pekerjaan, bahkan kepada awake dewe tak luput dari lingkaran ngerasani. Boleh dibilang efektif boleh juga tidak. Tergantung dari mana sisi yang kita ambil, apakah hanya untuk mengisi obrolan, atau mengambil sisi positif dari metode satu ini. Ambil co...

Kenapa Buku Bisa Bikin Candu?

Foto: setoncchs.com Bagi sebagian orang, membaca adalah kegiatan yang cukup berat dan menjenuhkan. Sebagian yang lain, menanggap buku sebagai teman bercerita yang asyik untuk menghabiskan waktu. Sejak kecil, kita semua telah dikenalkan dengan buku. Tapi bukan buku bacaan yang kita jumpai di toko-toko buku. Dan seiring perkembangan usia kita, definisi buku menurut setiap orang pasti mengalami perkembangan. Ketika kecil, kita sudah dikenalkan dengan yang namanya Al-Qur'an bagi orang Islam, sejak madrasah atau tpq sudah diajarkan membaca huruf-huruf arab. Beranjak sedikit besar, kita mengenal komik, buku pelajaran, buku tulis, buku gambar. Saat itu kita mengira buku hanya berisi tulisan berlembar-lembar, dan sedikit gambar untuk memperjelas maksud tulisannya.  Kita tidak tertarik untuk mengamati isi buku, siapa penulisnya, dan untuk apa itu dibuat. Apalagi, buku paket pelajaran menjadi sesuatu yang tidak disukai oleh kebanyakan anak-anak karena saking banyaknya yang harus dibawa tiap ...

Sudut Pandang Air di Mata Manusia

Manusia diciptakan dari air, sepertiga tubuhnya adalah air, dan manusia bertahan hidup juga dengan air. Manusia tidak bisa hidup tanpa air.  Menjadi menarik ketika baru-baru ini kita sedang dihebohkan dengan permasalahan kelangkaan minyak di tanah air. Kita tahu, akibat inflasi yang berkepanjangan di dunia, harga minyak goreng di Indonesia dan berbagai kebutuhan pokok lainnya ikut naik. Lantas, apa kaitannya air dengan minyak goreng? Sepertinya kita perlu memandang dari sisi yang berbeda, dan menyepakati bahwa minyak adalah salah satu jenis air. Jika permasalahan minyak goreng yang langka saja bisa menimbulkan berbagai konflik dan permasalahan di masyarakat, lalu bagaimana ketika yang menjadi langka adalah sumber air? Sebagai warga negara di Indonesia, kita termasuk beruntung karena tinggal di tempat yang notabene tidak kesulitan mencari sumber air bersih. Kebutuhan harian seperti mandi, mencuci, memasak, dan sebagainya dapat berjalan baik dengan adanya sumber air di sekitar kita. ...

Ramai-Ramai Menyoal Demo Mahasiswa

Tiba-tiba saya teringat aksi demo yang dilakukan ratusan mahasiswa Kudus di depan pendopo hari ini (12/04). Masa aksi yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Kudus Menggugat (AMUG) ini melancarkan demo dengan beragam tuntutan. Dari keterangan yang saya dapat, mereka menuntut kenaikan PPN yang menjadi 11%, penundaan pemilu atau perpanjangan 3 periode, atau kestabilan harga BBM dan bahan pokok. Dalam hal ini, saya tidak akan mendiskreditkan diri saya apakah saya mendukung demo tersebut atau menolaknya. Bagi saya, setiap dari mereka pasti mempunyai keyakinan masing-masing untuk memilih melakukan demo tersebut atau hanya duduk di rumah.  Saya cukup kaget dengan euforia demo yang cukup ramai tersebut. Meskipun sedang bulan puasa ramadan, kehadiran masa aksi dari berbagai mahasiswa Kudus ini cukup menunjukkan bahwa semangat memperjuangkan demokrasi itu masih ada. Dari beragam tuntutan yang diperjuangkan, bisa dikatakan bahwa masih banyak mahasiswa yang peduli terhadap ketidakadilan yang t...

Sebuah Catatan Kusam untuk Jejak Digital

Alasan sederhana mengapa saya membuat blog ini adalah saya hanya ingin membuat jejak digital yang kelak bisa say abaca kapan saja. Blog yang berisi tulisan-tulisan tidak begitu penting ini barangkali akan mengingatkan saya pada suatu momen ketika berposes. Mungkin suatu saat, tulisan-tulisan ini juga sebagai pengingat saya, bahwa saya pernah ada dan pernah merasakan pengalaman-pengalaman yang begitu menyenangkan, menyedihkan, perasaan biasa saja, dan dan apa pun itu. Beberapa orang tentu mempunyai cara yang berbeda untuk menyimpan kenangannya. Seperti halnya saya, yang lebih suka mengabadikan momen ke dalam sebuah tulisan. Tidak ada hal yang penting di dalam blog ini, saya tidak ingin mengganggu waktu berharga kalian hanya untuk menggulir tulisan-tulisan saya di sini. Blog ini bebas untuk siapa saja, dan tentunya jika kalian ingin memberikan masukan, saran atau sebagainya, tentunya sangat akan sangat berterima kasih. Blog ini berisi apa saja yang pernah saya rekam dalam pikiran. ...