Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label opini

Mental illness Mahasiswa Milenial

foto: istock.com Momen tes akhir semester atau UAS sepertinya memang menjadi momok bagi sebagian mahasiswa. Tak jarang saking sulit dan banyaknya tugas yang diberikan dosen memancing mereka untuk sambat dan pansos di laman media sosial. Kita tentu sering mendapati mereka (mahasiswa) berujar "tugasnya berat banget, pengen nikah aja", "semester 5 gini amat", atau quotes-quotes sejenisnya yang seakan menunjukkan beratnya tugas yang dikerjakan. Kalo dipikir-pikir lucu juga, bagaimana bisa mahasiswa membebankan tugas pada hal yang sama sekali tidak memecahkan masalah mereka.   Dalam artian gini, apakah ketika dia menikah ujug-ujug, mak bedunduk, simsalabim tugas mereka langsung kelar? Atau seandainya dia menikah betulan apakah dosen seketika langsung menarik tugas yang sudah diberikan? Nihil, mau nikah atau tidak, sebagai mahasiswa seharusnya ia tahu konsekuensi dari pilihannya, dong? Bahkan hal ini saya temui hampir di seluruh tingkatan, entah itu semester awal yang not...

Sinetron dan Tanggung Jawab Moral Media Indonesia

Belakangan ini dunia maya sedang digencarkan oleh perdebatan para warganet terhadap sinetron yang ditayangkan oleh salah satu media ternama di Indonesia. Sinetron yang mengisahkan tentang seorang gadis bernama Zahra yang di bawah umur (15 tahun) yang terpaksa menikah dengan pria berumur 39 tahun dan beristri dua. Sempat menjadi tranding topik di twitter dengan tagar Suara Hati Istri Zahra pada 1 Juni 2021 , tayangan ini pun menuai banyak hujatan dari warganet. Sinetron bertajuk Suara Hati Istri - Zahra yang ditayangkan stasiun TV Indosiar ini seakan memberikan tontonan kepada publik praktik pedofilia, pelecehan seksual, penurunan martabat perempuan, perkawinan anak, dan sebagainya. Dengan dibalut maskulinitas dari sang suami, seolah-olah mempertontonan bahwa laki-laki bisa bertindak apa saja, dan itu diwajarkan. Belum lagi, konflik memperebutkan suami yang didukung oleh mertua yang bersifat antagonis, seakan semakin menunjukkan perempuan tidak bisa apa-apa dan selalu bergantung p...

Stop mengucap toxic positivity pada temanmu

sumber: https://osc.medcom.id/ Pernah mendengar kalimat “Yahh, gitu aja menyerah” atau “kamu itu lebih beruntung, masalah yang kuhadapi jauh lebih berat darimu” dari salah seorang temanmu? Atau kamu pernah mengucapkan hal itu kepada temanmu? Jika iya, sebaiknya segera hentikan. Karena kamu telah mengucapkan toxic positivity yang bisa menyakiti hati temanmu. Lalu, apa itu toxic positivity? Secara umum, toxic positivity dapat diartikan sebagai ungkapan positif yang diucapkan kepada orang lain agar tetap berpikir atau berlaku positif. Istilah yang mulai populer pada awal tahun 2019 ini mengandung makna agar lawan bicara diharapkan tetap berpikir positif dalam memandang kehidupan. Pada sebagian orang, mungkin kata “jangan menyerah” atau “kamu bisa kok” mungkin akan efektif untuk memicu semangat seseorang. Namun, kata tersebut bisa saja memicu gangguan psikis jika diucapkan pada orang yang sedang menghadapi berbagai masalah yang pelik. Belakangan ini istilah toxic positivity mm...

Mahasiswa Aktivis dan Mahasiswa Apatis

sumber: hipwee Tercatat dalam sejarah Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu pihak yang berperan penting dalam perjuangan bangsa Indonesia. Sebagai generasi muda, mahasiswa di era 90an merupakan momok yang menakutkan bagi pemerintah yang saat itu sedang gencar-gencarnya bertindak sewenang-wenang, represif, dan menyebar kediktatoran. Hal ini memancing pertanyaan bagi saya, sehebat apakah mahasiswa pada saat itu? Mengapa sekarang hampir tidak ada mahasiswa yang demikian? Berbicara tentang mahasiswa, tidak asing lagi bagi kita mendengar dua jenis mahasiswa yang ada kampus. Mereka adalah mahasiswa aktivis yang sering menjuluki diri sebagai mahasiswa idealis dan mahasiswa apatis yang sering tercemooh dengan sindiran mahasiswa pasca kepompong   (kupu-kupu). Entah darimana pengkotak-kotakan kedua kelompok mahasiswa ini, namun dapat dipastikan keduanya paswada di seluruh kampus di Indonesia. Apapun pilihan mereka sebagai mahasiswa aktivis ataupun apatis, kita tidak sepatutnya mengha...

Generasi Menunduk

sumber: pixabay.com Duduk termenung memandangi sebuah benda kecil yang bersinar sambil sesekali senyum-senyum sendiri. Kecanduanku pada alat elektronik yang sering kita kenal dengan gadget ini sudah tidak dapat dipungkiri. Berjam-jam menghabiskan waktu sampai larut malam pun kulakukan setiap hari hanya untuk memuaskan harsatku bermain game. Tanpa sadar aku sering mengabaikan hal-hal yang ada di sekitarku. Tanpa sadar aku juga sudah tergolong dalam generasi yang hobinya menunduk ini. Budaya milenialisme Di era yang serba canggih ini, masyarakat dari berbagai kalangan seperti terjangkit virus yang tidak ada obatnya. Virus gadget dan internet ini tidak tidak kenal usia baik tua maupun muda, anak kecil maupun orang dewasa. Bisa kita lihat di sekitar kita, atu bahkan kita sendiri yang mengalaminya. Misalnya ketika berkumpul bersama teman, tak sedikit yang hanya menyapa lalu memandangi ponselnya kembali. Saat berkumpul bersama keluarga, suasana terasa dingin karena kita semua sibuk den...

Beruntungnya jadi orang yang Goodlooking

“Dont judge the book from the  cover” Ungkapan ini sering kita dengar bahkan berulang kali terlebih ketika membahas hal yang berkaitan dengan orang lain. Ungkapan yang bermakna jangan menilai seseorang dari penampilan atau luarnya saja, melainkan nilailah orang tersebut dari kelakuan atau atitude orang tersebut. hal ini memang mudah diucapkan dan dikatakan kepada orang lain, namun apakah kita sendiri telah melakukannya, atau jangan-jangan malah kita abai dan melupakan hal tersebut. Bukan hal yang jarang ditemui bahwasanya masyarakat Indonesia ataupun masyarakat dunia lebih menghargai orang-orang berpenampilan menarik daripada orang yang berpenampilan biasa saja. Hal ini dapat terlihat dari pelbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, ekonomi, pendidikan, dan kehidupan sosial sekalipun. Dalam ruang lingkup yang lebih sempit, dapat kita temui dalam bergaul dan berorganisasi. Misalnya ketika berdiskusi atau sedang bercengkerama, orang-orang yang terlihat goodlooking akan lebih...

Simpang Siur UKT Mahasiswa Hingga Dana Desa, Salah Siapa?

  Berbagai permasalahan baru yang ditimbulkan oleh virus corona semakin   bertambah. Terutama berkaitan dengan keputusan Direktur Jendral ( Dirjen ) Pendidikan Islam ( Pendis ) Kemen trian A g ama yang membatalkan pemberian diskon UKT bagi mahasiswa PTKIN menimbulkan kontraversi dan respon buruk dari kalangan mahasiswa. Pasalnya, dalam S urat E daran (SE) sebelumnya, Kemenag telah memberikan janji berupa potongan UKT minimal 10% bagi mahasiswa PTKIN sebagai upaya meringankan beban mahasiswa. Tak hanya itu, pemerintah juga tengah dipusingkan dengan masalah perekonomian yang semakin memburuk akibat C ovid-19. Berbagai protes juga dilayangkan kepada pemerintah baik daerah maupun pusat terkait tidak meratanya penerima B antuan L angsung T unai (BLT) yang diberikan. S ehingga timbul adanya kecurigaan dan rasa ketidakpercayaan dari warga masyarakat kepada pemerintah di berbagai daerah. Siapa yang Salah? Mahasiswa harus menerima kenyataan pahit atas batalnya diskon UKT...

Menyoal Transparansi Dana Desa dalam Penanganan Covid-19

  Gagasan pemerintah untuk memberikan bantuan kepada masyarakat ternyata tidak sepenuhnya direspon positif. Niat baik pemerintah ini terkendala dan mendapat kecaman dari masyarakat karena kurangnya koordinasi dan sinergitas satu sama lain. Dampaknya masyarakat merasa menjadi korban dari kebijakan pemerintah yang dianggap tidak konsisten. Terlebih, saat ini pemerintah sedang dipusingkan dengan masalah perekonomian yang semakin memburuk akibat C ovid-19. Berbagai protes dilayangkan kepada pemerintah baik daerah maupun pusat . Termasuk persoalan yang menyangkut transparansi dan tidak meratanya B antuan L angsung T unai (BLT) yang diberikan. Hal ini akhirnya memunculkan rasa kecemburuan sosial, kecurigaan bahkan ketidakpercayaan dari masyarakat kepada pemerintah. Polemik pemberian Bantuan Langung Tunai (BLT) bagi warga terdampak Covid-19 menimbulkan rmasalah di berbagai daerah. Adanya protes dari masyarakat ini menandakan minimnya hormonisasi dan sinergitas antara pemerintah ...